Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

MEMAHAMI SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW PERIODE MEKKAH

Klik disini untuk DOWNLOAD

BAB I
PENDAHULUAN
1.    LATAR BELAKANG
Muhammad mulai menyebarkan agama barunya di Mekkah. Oleh karena itu kita perlu memahami situasi di Mekkah pada saat pada saat Nabi memulai dakwahnya. Sebagaimana yang telah disebutkan, Mekkah terletak di jalur perdagangan internasional, dan dengan sendirinya menjadi pusat perdagangan yang penting. Mekkah adalah salah satu pusat kota yang penting dengan aktifitas perdagangan yang ramai.[1]
Sebelum datang agama islam, mereka telah mempunyai berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan hidup. Agama baru ini pun datang membawa akhlak, hukum-hukum dan peraturan hidup.
Sejarah bangsa arab penduduk gurun pasir hampir tidak dikenal orang. Yang dapat kita ketahui dari sejarah mereka hanyalah yang dimulai dari kira-kira seratus lima puluh tahun sebelum islam. Adapun yang sebelum itu tidak dapat diketahui. Yang demikian disebabkan karena bangsa Arab penduduk padang pasir itu terdiri atas berbagai macam suku bangsa yang selalu berperang-perangan.[2]

2.    RUMUSAN MASALAH
1.    Mendeskripsikan misi Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat?
2.    Mengambil ibrah dari misi Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat untuk masa kini dan yang akan datang?
3.    Meneladani perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat Makkah?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Mendeskripsikan misi Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat.
Pada malam 17 Ramadhan 40 tahun dari kelahirannya, bertepatan pada tanggal 6 Agustus 610 M. Pada saat itu Nabi Muhammad bertahanus (bertapa) di Gua Hira datang malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama yaitu surat Al-Alaq. Dengan diterimanya wahyu pertama ini secara resmi Nabi Muhammad SAW menjadi seorang rasul Allah SWT. Untuk menyampaikan ajaran islam kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa risalah yang rahman lil alamin. Pada periode ini Rasulullah SAW sebagai masa awal dari sebuah peradaban islam. Peradaban islam dibangun dengan menjadikan agama islam sebagai dasar pembentukannya.
Bangsa Arab sebelum islam terkenal dengan istilah Arab Jahiliyah, bahwa bangsa Arab masih dalam keadaan bodoh dan terbelakang dimana pada saat itu masyarakat menganut agama majusi yang dan beragama Nasrani. Bersamaan dengan itu Allah mengutus Nabi Muhammad untuk membimbing Akhlak yang baik dan bertauhid untuk kembali kepada jalan yang benar. Hal pertama yang dilakukan Nabi Muhammad adalaah memperbaiki akhlak karena adanya kerusakan akhlak yang terjadi karena suka berjudi, minum-minuman keras dan berfoya-foya. Kedatangan Rasulullah membuat suasana negeri arab yang gelap gulita menjadi terang benderang, hal itu disebabkan karena sikap perbuatan luhur dari pribadi Nabi yang lemah lembut, bijaksana dan merakyat. Rasulullah mendapat sebutan Uswatun Khasanah atau suri tauladan yang baik. Secara perlahan Rasulullah membangun masyarakat dengan menanamkan akhlak yang baik dan keimanan kepada Allah. Akhlak mulia akan membawa manusia selamat dari kehancuran. Akhlak mulia beliau perlihatkan dari segala kehidupan, mulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat sehingga beliau menjadi rahmat bagi manusia dan lingkungannya sampai hari kiamat dengan membawa kedamaian, kesejahteraan dan kemajuan umat. Setelah turun ayat yang menyatakan bahwa Muhammad secara terang-terangan segala yang diperintahkan. Nabi menjalankan dakwahnya dengan secara terang-terangan keseluruh lapisan masyarakat, baik golongan bangsawan maupun budak serta negeri-negeri lain, selain itu beliau juga berdakwah kepada orang-orang dating ke Mekkah, maka dengan jalan ini banyak para penduduk yang memeluk agama islam.   

2.2  Mengambil ibrah dari misi Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat untuk masa kini dan yang akan datang.
Agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah meyempurnakan ajaran agama yang dibawa Rasulullah yang intinya mengesakan Allah. Pokok ajaran yang disampaikan Rasulullah adalah keimana sebagai awal dari peyebaran agama islam. Ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah ajaran tentang ketauhidan untuk menyembah Tuhan selain Tuhan yaitu Allah dan meninggalkan kemusrikan. Mengajarkan akan terjadinya hari kiamat dimana semua manusia akan mempertanggung jawabkan awalnya didunia. Mengajarkan akhlak terpuji dan ibadah sholat agar dapat meninggalkan peyembahan terhadap berhala. Mengajarkan persamaan derajat sesama manusia bahwa semua manusia itu sama yang membedakan adalah ketaqwaan kepada Allah.
Rasulullah melakukan dakwah di Mekkah dengan penuh kegigihan tanpa mengenal lelah dan putus asa meskipun banyak kendala maupun rintangan dan penyiksaan dari kaum Qurais, sehingga dalam diri Rasulullah sangat melekat sifat-sifat terpuji: Siddiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tablik (menyampaikan risalah), dan fatonah (cerdas). Dengan sifat-sifat  Madinah menjadi kota kumpulan muslimin yang kemudian disegani oleh kota-kota yang lain disekitarnya.
Dalam berdakwah, Nabi Muhammad juga menggunakan siasat-siasat tertentu. Pada awal, beliau mengumpulkan pendukung setia. Cara beliau gunakan masih sembunyi-sembunyi dan ditujukan kepada orang-orang dekatnya. Tahap selanjutnya Nabi Muhammad mulai berdakwah secara terbuka. Itu beliau lakukan setelah mendapat pendukung yang cukup. Pada tahap dakwah terbuka, hambatan makin besar. Oleh karena itu, beliau memerintahkan sebagian pendukungnya berpindah tempat sambil tetap melanjutkan misi dakwah.
Akhirnya Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah setelah warga kota Mekkah mengancam nyawa beliau. Di tempat yang baru, Nabi Muhammad tetap berdakwah sambil menyusun kekuatan. Semua tahapan dakwah Nabi Muhammad selalu berdasarkan petunjuk Allah dengan berpegang teguh pada petunjuk itu, dakwah Nabi Muhammad mencapai keberhasilan untuk menyiarkan islam keseluruh pelosok dunia guna membawa keselamatan hidup dunia dan akhirat, dan hal ini sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia.[3]
2.3  Meneladani perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat Makkah
Berawal dari analisa sosial yang cerdas, Nabi SAW akhirnya mampu berdakwah dan menghadapi segala rintangan dan gangguan yang dilakukan oleh kaum elit Quraisy. Perjuangan dakwah sebagai proses islamisasi masyarakat inilah yang patut kita teladani. Hingga zaman ini berakhir, perjuangan dakwah tetap besar peranannya dalam menegakkan agama islam.
Berikut adalah gerakan dan strategi perjuangan dakwah yang harus diteladani untuk kemajuan islam saat ini:
a.       Niat yang kuat
Sekiranya Rasulullah SAW lebih mencintai karir bisnisnya dibanding dakwahnya, niscaya ia akan menjadi saudagar sukses di jazirah Arab. Sebab perekonomian yang melimpah telah ia miliki semenjak nikah dengan Khadijah, wanita kaya yang berkepribadian kuat dan memiliki sifat-sifat mulia. Tapi bagi Rasulullah SAW perlimpahan harta perniagaan tidak menjadikannya berbelok dari niat untuk sebuah harapan tentang kebenaran yang hakiki.
Rasulullah SAW yang selalu diliputi kegelisahan dan harapan akan kebenaran terus berfikir agar kebejatan moral masyarakat Arab Mekkah saat itu bisa dirubah menjadi masyarakat yang beradab dan beriman kepada Allah yang Esa. Bukti kongkrit kepedulian itu terbuktikan dengan kebiasaan bertahannuts di gua kecil di bukit Hira yang terletak di luar kota Mekkah. Akhirnya pertolongan Allah dating. Wahyu pertama turun dan menandai munculnya seorang Nabi penerima wahyu di tanah Arab.
b.      Berakhlak terpuji
Reputasi Muhammad SAW di mata masyarakat Mekkah dikenal sebagai orang yang jujur dan terpuji, ia dikenal dengan sebutan Al-amin.
Di zaman ini sangat diperlukan orang yang selalu konsisten terhadap apa yang ia katakana dengan apa yang ia kerjakan. Akan sulit memengaruhi orang lain jika seorang da’i pada kenyatannya adalah orang yang dibenci masyarakat gara-gara akhlaknya yang tidak terpuji.
Perjuangan Nabi Muhammad SAW berhasil gemilang karena teladan yang diberikan beliau sangat baik. Beliau banyak berbakti dan penuh kasih saying, sangat rendah hati, jantan, tutur katanya yang lemah lembut, hak setiap orang miskin ditunaikan. Pandangannya terhadap orang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih dan mesra.
c.       Tabah dan rela berkorban
Pribadi nabi yang tabah dan rela berkorban membuat gerakan perjuangannya dalam dakwah tetap bertahan. Padahal banyak peristiwa yang menguji dan membuktikan ketabahan dan pengorbanannya, yakni:
·      Hakam bin Ash dan Uqbah bin Muhith selalu meletakkan kotoran-kotoran ke punggung Nabi dan ke dalam makanan Nabi ketika beliau sholat.
·      Istri Abu Lahab sering meletakkan duri-duri di depan pintu rumah Nabi supaya beliau kesakitan terkena duri ketika hendak ke luar untuk sholat.
·      Kaum Quraisy pernah mencekik leher Nabi waktu beliau sholat, nyaris saja Nabi meninggal jika tidak ditolong Abu Bakar saat itu.
·      Nabi pernah dipukul hingga parah ketika beliau menyampaiakn ajaran islam di masjid
·      Nabi dicaci maki dan dilempari batu oleh para pemuda Thaif ketika berdakwah didaerah tersebut.
Kurun waktu yang telah dilalui dalam hidup Muhammah SAW adalah kurun waktu yang paling dahsyat yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Baik Muhammad ataupun mereka yang menjadi pengikutnya bukanlah orang yang menuntut harta kekayaan, kedudukan atau kekuasaan, melainkan orang yang menuntut kebenaran serta keyakinan akan kebenaran itu. Demi tujuan yang agung itulah mereka mengalami peyiksaan.
Ketabahan yang ditopang oleh pribadi Muhammad yang bersifat lemah lembut, akhlaknya yang indah serta kejujurannya yang cukup dikenal., berkemauan keras dan berpendirian teguh. Selain itu, dari segi keturunan ia menempati puncak yang tinggi. Harta sudah cukup seperti apa yang dokehendakinya. Ia juga dari keturunan Hasyim yang menjadi juru kunci ka’bah dan urusan air di Mekkah.
d.      Menyampaikan kebenaran
Ajaran yang disampaikan Nabi beserta para sahabatnya tiada lain adalah kebenarab wahyu yang datang dari Allah SWT. Kebenaran itu diawali dengan perubahan keyakinan dari mempertahankan berhala menjadi penghambatan terhadap Allah Tuhan yang esa, merambah menuju segala kebaikan dunia akhirat.
Ketika Nabi menyeru Bani Abdul Muthalib sesudah mereka berkumpul, beliau menjelaskan dengan sebuah pernyataan : “menurut saya belum pernah ada seorang pemuda yang membawa sesuatu untuk kaumnya yang lebih utama dari apa yang saya bawa untuk kalian. Saya bawakan untuk kalian segala kebaikan dunia akhirat”.
Cara penyampaian kebenaran dalam perjuangan dakwah Muhammad SAW mempunyai persamaan yang besar dengan metode ilmiah modern. Inilah yang patut kita teladani, yang pada akhirnya membuahkan hasil yang gemilang menjadikan manusia berperadaban maju bersama agama islam.
e.       Cerdas
Kecerdasan Nabi tidak diragukan lagi. Bahkan sifat wajib yang melekat pada diri beliau adalah fathanah, yang berarti cerdas. Kecerdasan beliau bukan hanya IQnya saja (beliau sanggup menghafal seluruh ayat Al-Qur’an dengan kandungan hukum yang terdapat didalamnya), tapi juga EI nya. Kecerdasan hati dan emosinya. Beliau selalu berkata sesuai kadar kemampuan akal orang yang diajak bicara, dan selalu mencari solusi dalam perjuangan dakwahnya menghadapi masyarakat Makkah saat itu.
Kehidupan Rasulullah sangat syarat dengan kecerdasan dalam mengendalikan emosi diri serta memahami perasaan orang lain. Hal ini menjadikan berbagai keputusan yang beliau ambil menjadi begitu menggugah hati banyak orang. Kecerdasan luar biasa ini yang bisa kita jadikan rujukan.
Sekalipun dalam lingkungan masyarakat yang semacam itu Muhammad SAW lahir dan dibesarkan, tingkah laku beliau jauh berbeda dengan kebanyakan pemuda dan penduduk kota Mekkah umumnya. Sejak masih kanak-kanak sampai dewasa dan kemudian diangkat menjadi rasul, beliau terkenal sebagai orang jujur, berbudi luhur dan berkepribadian tinggi. Tidak ada satupun perbuatan tercela yang dapat dituduhkan kepadanya, karena selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan, maka beliau dijuluki al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Tidaklah sia-sia Abdul Muthalib memberi nama Muhammad bagi cucunya itu.[4]

BAB III
KESIMPULAN
1.      Nabi SAW dan para sahabat berjuang di Mekkah karena masyarakatnya tidak bisa membedakan agama dan kekuasaan.
2.      Misi perjuangan Nabi adalah tauhid yaitu mengajak manusia menyembah Allah SWT.
3.      Perjuangan Nabi SAW dan para sahabat dibuktikan dengan tegar mengalami penderitaan demi islam.
4.      Cara meneladani perjuangan Nabi SAW adalah dengan berani menunjukkan perilaku pejuang yang islami, yaitu memiliki niat yang kuat, berakhlak mulia, tabah dan rela berkorban, selalu mnyampaikan kebenaran, dan islam.


[1] Ashgar Ali Engineer, Asal-usul dan Perkembangan Islam, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1999), hlm. 59
[2] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, (Jakarta:pustaka al husna baru, 2003) hlm. 27
[3] W. Montgomery, Kejayaan Islam, (Jogyakarta:Tiara Wacana, 1990)
[4] Bisri Affandi dkk, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Surabaya: CV Anika bahagia offset , 1993). Hlm. 49

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM



Klik disini untuk DOWNLOAD


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sebagai generasi muslim, kita perlu mengetahui perkembangan sejarah kebudayaan islam. Hal ini bertujuan untuk menambah dan meningkatkan kemantapan iman kita. Seorang ahli sejarah abad pertengahan yang bernama Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa kebudayaaan merupakan kondisi-kondisi kehidupan yang melebihi dari yang diperlukan. Perkembangan kebudayaan Islam tidak lepas dari politik dan kekuasaan. Pada umumnya kebudayaan tumbuh dan berkembang di suatu kota. Bukan suatu daerah pedalaman. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sejarah kebudayaan Islam adalah kondisi masyarakat yang berkembang karena dukungan pemerintahan Islam.
Sejarah Islam sendiri adalah termasuk bagian ilmu pengetahuan agama Islam. Dan tidak boleh dipandang terpisah dari ilmu pengetahuan agama islam. Oleh karena itu bagi mereka yang hendak menulis sejarah Islam harus mempunyai pengetahuan tentang cabang-cabang ilmu pengetahuan agama islam seperti Al-Quran, As-Sunah, Fiqih, Tauhid, Tarikh dan sebagainya. Sebab tidak sedikit peristiwa-peristiwa bersejarah berkaitan erat dengan turunnya ayat-ayat Al-Quran dan As-Sunah.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Sejarah Kebudayaan Islam itu?
2.      Bagaimanakah Wujud dan bentuk Kebudayaan Islam?
3.      Apa Tujuan Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam?
4.      Apa Manfaat Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam?
5.      Saperti apa Contoh Kebudayaan Islam?
                                                       
BAB II
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
A.      Pengertian Kebudayaaan Islam
Menurut bahasa, sejarah berarti riwayat atau kisah. Dalam bahasa Arab, sejarah disebut dengan tarikh, yang mengandung arti ketentuan masa atau waktu. Sebagian orang berpendapat bahwa sejarah sepadan dengan kata syajarah yang berarti pohon (kehidupan). Sedangkan menurut istilah, sejarah ialah proses perjuangan manusia untuk mencapai penghidupan kemanusiaan yang lebih sempurnah dan sebagai ilmu yang berusaha mewariskan pengetahuan tentang masa lalu suatu masyarakat tertentu. Sejarah juga merupakan gambaran tentang kenyataan-kenyataan masa lampau yang dengan menggunakan indranya serta memberi kepahaman makna yang terkandung dalam gambaran itu.[1]
Kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Budi mempunyai arti akal, kelakuan, dan norma. Sedangkan “daya” berarti hasil karya cipta manusia. Dengan demikian, kebudayaan adalah semua hasil karya, karsa dan cipta manusia di masyarakat. Istilah "kebudayaan" sering dikaitkan dengan istilah "peradaban". Perbedaannya : kebudayaan lebih banyak diwujudkan dalam bidang seni, sastra, religi dan moral, sedangkan peradaban diwujudkan dalam bidang politik, ekonomi, dan teknologi. Apabila dikaitkan dengan Islam, maka Kebudayaan Islam adalah hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber hukum dari al-Qur'an dan sunnah Nabi.
Islam berasal dari bahasa arab yaitu “Aslama-Yuslimu-Islaman” yang artinya selamat. Menurut istilah, Islam adalah agama samawi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk bagi manusia agar kehidupannya membawa rahmat bagi seluruh alam. Jadi kesimpulannya, Sejarah Kebudayaan Islam adalah kejadian atau peristiwa masa lampau yang berbentuk hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada sumber nilai-nilai Islam. Unsur Pembentuk Kebudayaan Islam adalah :
1.      Sistem Politik, sistem politik ini meliputi :
a.       Hukum Islam, Kebudayaan Islam mencapai puncak kejayaan ketika diterapkannya hukum Islam. Di dalam Islam sumber hukum utama adalah Al Qur’an dan Hadits.
b.      Khilafah, Setelah Rosulullah saw wafat , orang-orang yang diberi tanggung jawab melaksanakan hukum islam adalah para pengendali pemerintahan. Kedudukan mereka adalah sebagai kholifah atau pengganti saw.
2.      Sistem kemasyarakatan, Terbagi dalam kelompok-kelompok berikut: Kelompok Penguasa, Kelompok Tokoh Agama, Kelompok Militer, Kelompok Cendikiawan, Kelompok Pekerja dan Budak, serta Kelompok Petani.
3.      Ilmu Pengetahuan, Pada masa awal Perkembangan Islam, ilmu pengetahuan kurang mendapat perhatian. Ilmu Pengetahuan baru mendapat perhatian pada masa Dinasti Abbasiyah. Pada saat itu banyak buku-buku dari berbagai disiplin ilmu dan kebudayaan lain diterjemahkan kedalam bhasa Arab.

B.       Tujuan dan Manfaat Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam
·      Tujuannya adalah:
1.      Mengetahui lintasan peristiwa, waktu dan kejadian yang berhubungan dengan kebudayaan Islam
  1. Mengetahui tempat-tempat bersejarah dan para tokoh yang berjasa dalam perkembangan Islam.
  2. Memahami bentuk peninggalan bersejarah dalam kebudayaan Islam dari satu periode ke periode berikutnya.[2]
·      Manfaat Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam adalah:
  1. Menumbuhkan rasa cinta kepada kebudayaan Islam yang merupakan buah karya kaum muslimin masa lalu.
  2. memahami berbagai hasil pemikiran dan hasil karya para ulama untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Membangun kesadaran generasi muslim akan tanggung jawab terhadap kemajuan dunia Islam.
  4. Memberikan pelajaran kepada generasi muslim dari setiap kejadian untuk mencontoh/meneladani dari perjuangan para tokoh di masa lalu guna perbaikan dari dalam diri sendiri,masyarakat,lingkungan negerinya serta demi Islam pada masa yang akan datang.
  5. Memupuk semangat dan motivasi untuk meningkatkan prestasi yang telah diraih umat terdahulu.
C.      Bentuk / Wujud Kebudayaan Islam
Bentuk atau wujud kebudayaan Islam paling tidak dapat dibedakan menjadi tiga hal, yaitu:
1.    wujud ideal (gagasan)
2.    wujud aktivitas
3.    wujud artefak (benda)
Salah satu tokoh yang dikenal sebagai sejarawan dan dijuluki Bapak Sosiologi Islam adalah Ibnu Khaldun. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam,pengamatan terhadap berbagai masyarakat. Ibnu Khaldun menulis sebuah buku yang berjudul Al’Ibar(Sejarah umum) yang diterbitkan di Kairo tahun 1248 M.Ibnu Khaldun juga dipandang sebagai peletak dasar ilmu sosial dan politik Islam.
1.    Kebudayaan Islam yang Berwujud Ideal (Gagasan)
a.    Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh.
b.    Wujud kebudayaan ini terletak di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Di antara tokoh-tokoh yang berperan adalah:
a.    Imam Syafi'i, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki (bidang ilmu fiqih).  
b.    Umar bin Khattab (bidang administrasi negara dan pemerintahan Islam)
c.    Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd (bidang filsafat)
d.   Ibnu Khaldun (bidang sejarah yang sering disebut dengan "bapak sosiologi Islam").

2.    Kebudayaan Islam yang berwujud ideal diantaranya:
a.    Pemikiran di bidang hukum Islam muncul ilmu fiqih.
b.    Pemikiran di bidang agama muncul ilmu Tasawuf dan ilmu tafsir.
c.    Pemikiran di bidang sosial politik muncul sistem khilafah Islam (pemerintahan Islam) yang diprakarsai oleh    Nabi Muhammad dan diteruskan oleh Khulafaurrosyidin.
d.   Pemikiran di bidang ekonomi muncul peraturan zakat, pajak jizyah (pajak untuk non Muslim), pajak   Kharaj (pajak bumi), peraturan ghanimah (harta rampasan perang).
e.    Pemikiran di bidang ilmu pengetahuan muncul ilmu sejarah, filsafat, kedokteran, ilmu bahasa dan lain-lain.
3.    Kebudayaan Islam yang berwujud Aktivitas
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

D.      Contoh kebudayaan Islam
Ø  kebudayaan Islam yang berwujud aktivitas atau tindakan di antaranya adalah:
1.    Pemberlakuan hukum Islam seperti potong tangan bagi pencuri dan hukum razam bagi pezina.
2.    Penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan Islam pada masa Dinasti Umayyah (masa khalifah Abdul Malik bin Marwan) memunculkan gerakan ilmu pengetahuan dan penterjemahan ilmu-ilmu yang berbahasa Persia dan Yunani ke dalam bahasa Arab. Gerakan ilmu pengetahuan mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah, di mana kota Baghdad dan Iskandariyah menjadi pusat ilmu pengetahuan ketika itu.
Ø Kebudayaan Islam Yang Berwujud Artefak (Benda)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Ø kebudayaan Islam yang berbentuk hasil karya di antaranya:
seni ukiran kaligrafi yang terdapat di masjid-masjid, arsitektur-arsitektur masjid dan lain sebagainya. Catatan : Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Contoh Kebudayaan Islam:
1.    Di bidang Seni : Syair, Kaligafi, Hikayat, Suluk, Babad, Tari Saman, tari Zapin.
2.    Di bidang Fisik : Masjid, Istana, Keraton.
3.    Di Bidang Pertunjukan : Sekaten, Wayang, Hadrah, Qasidah.
4.    Di bidang Tradisi : Aqiqah, Khitanan, Halal Bihalal, Sadranan, Berzanzi.

BAB III
PENUTUP
1.    KESIMPULAN
Menurut istilah, sejarah ialah proses perjuangan manusia untuk mencapai penghidupan kemanusiaan yang lebih sempurnah dan sebagai ilmu yang berusaha mewariskan pengetahuan tentang masa lalu suatu masyarakat tertentu. Sejarah juga merupakan gambaran tentang kenyataan-kenyataan masa lampau yang dengan menggunakan indranya serta memberi kepahaman makna yang terkandung dalam gambaran itu.
a.    Kebudayaan Islam adalah hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber hukum dari al-Qur'an dan sunnah Nabi.
b.    Islam adalah agama samawi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk bagi manusia agar kehidupannya membawa rahmat bagi seluruh alam.
c.    Sejarah Kebudayaan Islam adalah kejadian atau peristiwa masa lampau yang berbentuk hasil karya, karsa dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada sumber nilai-nilai Islam.

2.        SARAN
Demikianlah makalah yang telah saya susun tentunya dalam hal ini masih banyak kekurangan, saya harap makalah ini dapat menambah wawasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah yang selanjutnya.


[1] Hugiono dan P.K. Poerwantana, Pengantar Ilmu Sejarah, (Jakarta : PT Rineka Cipta,1992), hlm. 8
[2] Abd Djabbar Adlan, Dirasat Islamiyyah III, (Surabaya : CV Anika Bahagia Offset, 1993), hlm. 4